Bingung
Aku bingung, apa yang aku bingungkan? Tersebut-sebut?
Aku bingung, apa yang aku bingungkan? Tersebut-sebut?
Suatu petang di perempatan Bulaksumur…
Ninda: “Yus, mana bisa kamu bisa terus-terusan bahagia , padahal sudah setahun lebih sendiri.”
Yusrin: “Oh gitu ya, Nin? Lha, selama ini aku asik-asik aja e nin. Hahaha”
Ninda: “Nggak mungkin!”
Yusrin: “Ya kadang-kadang aja.”
Hahaha prolog yang aneh, ya begitulah kira-kira inti perbincanganku dengan Ninda di atas sepeda motor, kemarin petang. Entah apa, sepanjang perjalanan berangkat dan pulang kami berbicara mengenai hal tersebut-sebut. Ya disela-sela perbincangan mengenai dunia perkuliahan dan beberapa hal yang rasa-rasanya tidak perlu diperbincangkan di sini. Siapakah Ninda? Kapan-kapan bolehlah aku ceritakan.
Ninda bercerita juga bagaimana kisahnya masa kini, sedang aku? Apa yang bisa diceritakan pada masa kini perihal tersebut-sebut?
So? So what’s now?
Dear hati: Hey hati! Apa kabarmu? Apa yang kau rasakan? Hidup damai? Hey hati, untuk saat ini percayalah padaku, sudah percaya saja “someday, somewhere, someone”
Aku tidak perlu mencari tahu apa judul yang tepat pada setiap judul yang dilanjutkan dengan ketikan. Aku tak perlu menamai hari dengan nama-nama. Apapun itu, jalani saja dengan senang hati dan ikhlas…
Hari ini berakhir juga, dan tiba saatnya aku menghadap layar, mengerjakan apa yang seharusnya menjadi kewajiban. Ya tugas, ya surat untuk organisasi, dan chit-chat sini-sana. Hahaha, sambi nugas… YM-an sama Wuri Puspita, kapan-kapan aku ceritakan siapa dia… Dan entah mengapa, obrolan apa, aku menuliskan kata-kata ini:
Mungkin rindu memang harus dipupuk, agar tiap perjumpaan mengandung rasa, dan melahirkan makna…
Hahaha, senang bukan kepalang dia…
Belakangan, waktuku habis untuk istilah yang satu ini, me time. Mengapa? Entahlah mungkin jawaban yang klise maka akan kucari jawaban yang lain. Kemungkinan besar cuma dua, aku capek dan jenuh dengan rutinitas sehari-hari. Kupikir wajar seseorang merasakan hal yang serupa.
Belakangan, yang kurasakan itu tidak pernah karuan. Semuanya datar, hanya beberapa jam dalam sehari saja yang tidak datar. Dan itupun jarang terjadi. Kedataran itu, hampir menyelimuti seluruh linimasa kehidupan.
Bisa saja aku capek. Dan bisa jadi aku memang jenuh. Tapi apa bisa kamu menjadi aku yang capek dan aku yang memang jenuh? Aku tidak sedang berbicara cinta. Terlalu mudah jika kamu menuliskan sajak-sajakmu begitu saja.
Hanya saja, hanya jika. Besok adalah hari di mana kamu masih mengharapkan kehidupan. Besok adalah hari di mana kamu masih mau menjalani hari-hari selanjutnya setelah itu. So? SEMANGAT DONG!
Stop Crying Your Heart Out. Meminjam judul lagu dari Oasis. Kupikir, cocok saja kalau hari ini diberi judul sama seperti judul lagu Oasis yang satu itu. Kenapa?
Ya, bisa jadi ini cerita. Ya, biar saja cerita. Yang bukan bualan, yang bukan buat-buatan. Hari ini aku terbangun dengan perasaan bersalah, salah total. Subuh bangun dan hanya tidur empat jam. Buru-buru mencari cara agar kesalahpahaman terselesaikan. Ya, semalam aku tidur dengan meninggalkan ketidaknyamanan pada sahabatku, pendengarku, pemberi kritik dan masukan. Sebut saja Mbak Dyan. Sudah begitu, aku sadar apa yang aku perbuat padanya, segera saja beragam cara kulakukan agar segalanya segera mereda. Apalagi membaca BBMnya untukku, dan tweet yang dia update tengah malam tadi. Yah, kira-kira pukul setengah sembilan semuanya selesai. Dan aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama pada Mbak Dyan. Aku meminta maaf kepada Mbak Dyan, terlebih dia sedang PMS. Penyakit bulanan wanita yang sangat mematikan hati. Uuuh, mungkin aku dan kamu-kamu juga sebegitu seram kalau tengah menjalani masa PMS. Hehehe… Oke, maklum… Besok tinggal cari cinderamata yang sudah kujanjikan pada Mbak Dyan, kira-kira apa ya?
Soal meminta maaf, tak ada salahnya lho kamu meminta maaf duluan atas segala hal yang menimbulkan ketidaknyamanan dan kegalauan di lain pihak. Siapapun itu. Karena maaf, bagaimanapun bentuknya adalah sebuah ketulusan, tentu saja jika kamu benar-benar tulus meminta maaf. Dan yakinlah, maaf itu akan terberi. Hehehe, tentu kamu dan aku punya cara tersendiri dalam meminta maaf. Caraku begini, mungkin caramu begitu, yah, yang terpenting saat ini adalah tetap menjaga kedamaian di muka bumi. Baru kamu cari kedamaian untuk hatimu. Mlipir ah…
Ehem, aku berjanji juga kepada Mbak Dyan, untuk paling tidak berhenti dulu bercerita kepadanya mengenai hal-hal yang tidak penting untuk diceritakan, paling tidak tiga hari ke depan. Dan hari pertama ini sudah kubilang sukses. Yah, sukses di tempat Mbak Dyan. Hehehe. Mlipir lagi…
Satu lagi, jangan lupa bilang terima kasih. Serius… Aku tidak bisa membahas ini lama-lama, aku harus segera mengerjakan tugaskuuu… Tapi percayalah, kekuatan terima kasih bukan semata-mata testimoni, tapi bisa lebih dari itu… Oke, sebetulnya masih banyak yang ingin tersampaikan. Mungkin kali lain, kalau belum lupa. Hehehe… Chao!
Deg! Pindah ke tab sebelah…
Terkadang, membuka laptop, dengan niatan mengerjakan tugas bisa juga menggiring kita kepada hal yang sebenarnya melenceng. Yah, kekuatan internet itu memang mampu mengalahkan segalanya (mungkin). Oalah, generasi internet.
Sejenak saja dulu, aku ingin bercerita. Tentang apa saja yang bisa diceritakan, karena belakangan, segalanya bersifat tidak karuan. Tapi apa yang bisa aku ceritakan? Pada malam seperti ini, pada hujan yang turun dengan awetnya.
Oh jika aku langit, dan kamu buminya, maka hujan adalah cintanya. Hahaha. Tak perlu menggunakan diksi yang sakral, tak perlu memikirkan rima dan irama penulisan. Aku sedang tidak bersajak, aku hanya ingin bercerita.
Dalam hujan yang masih saja berderai, dalam irama yang masih saja sama, dalam playlist yang terus memutar ulang lagu itu-itu saja, oh demi Sheila on Seven dan Naif, terima kasih telah menemani malam ini. Malam-malam sayup tanpa tepi…
Ah rasa-rasanya aku terlalu boros menggunakan kata-kata, tidak segera bercerita, tidak segera menuju kalimat inti.
Hey, sudah Maret saja di 2012 ini. Takkah waktu beradu dengan dunia demikian cepatnya? Apa saja cerita yang kau punya? Selain suka dan duka dan tanpa cerita?
Hey, aku ingin bercerita, dalam mood yang tanpa cerita. Perasaanku mengambang, tak berarah, dan tak memiliki tepi untuk aku tuju. Oh iya, kemarin Kabisat.
Hey, hati? Apa kabar? Adem ayem saja… Hey, hati! Aku memanggilmu, tak lagi hati-hati. Hey, hati? Hey?
Apa yang membuatmu berurusan dengan hati?
Aku mampu menahan laju ego yang jika kubiarkan akan membawaku ke tepi jeruji-jeruji besi yang menghentikan irama nadi senyuman, tapi jika telah berurusan dengan hati, aku akan menjadi lain. Aku, tanpa perlu susah payah mengubah segalanya kepada pusat-pusat syaraf keasyikan bisa bawa diriku hanyut dalam debu-debu penghasil damai. Di suatu lahan di mana hanya aku yang mengerti, bukan kau, tidak juga kamu. Keakuan.
Pernahkah kau menggali denyut nadimu, ke mana ia mengalir?
Akan menjadi cerita lain, jika hati sudah kubawa dalam perjalanan. Aku seperti langkah yang terlihat dari punggung pada sebuah gurun seperti film yang memutar latar gurun. Sendiri, besi, dan angkuh. Aku menggali di mana sosokku sebagai hawa, aku menggali di mana aku menguburnya, aku menggali segala keganjilan yang aku rasakan. Semakin aku menggali aku, aku tahu, jika aku bisa jadi cukup jadi rapuh untuk diterpa angin meski sepoi, terlalu rapuh dan angkuh untuk menantang badai. Keakuan. Aku seperti biru, aku seperti melawan air terjun hati yang mengalirkan deru pertanyaan kepada waktu. Setia hingga waktu sudi menjawab.
ysrn, 7 Februari 2012
Tak ada yang lebih saat ini, kecuali berat badan. Lagi-lagi isu lapuk…
Sudah lama tidak menulis, sebenarnya tidak, hanya saja tidak semua yang tertulis harus disampaikan. Hanya saja yang tertulis tak harus selalu diperdengarkan. Dan setiap hembusannya, mengandung duka, mengandung rasa.
Pada hari itu aku seperti kata, aku entah, merasa entah, merasa gundah, merasa jengah, mungkin hanya lelah. Pada saat itu, aku seperti ragu, aku ragu, merasa batu, merasa kaku, merasa pilu, mungkin hanya biru. Pada saat itu, aku seperti marah, aku marah, merasa lemah, penuh amarah.
ysrn, 30 Januari 2012
Penghujung 2011 ini, terlalu banyak kisah yang ingin diungkap. Dari yang telah terjalani, sedang terjalani, hingga yang akan terjalani. Dalam setiap langkahku kemudian, aku hanya ingin memperbaiki diri.
Aku agak tahu bagaimana sesungguhnya intensitas dari homesick, mungkin seperti ini, seperti saat ini, sekarang…
Aku rindu bapakku, aku rindu ibukku, aku tak lebih rindu kepada selain mereka…
Takjub! Saya akan belajar! Bismillahirahmanirrahim…